Jejak Hidupku

September 4th, 2009

Modal Kuat Mental Baja

Posted by yudhita in Pekerjaanku

Jangan disangka, bisnis media itu mudah. Terlebih media cetak yang keberadaannya kini kian ‘terancam’ oleh kehadiran media audio visual (televisi) dan media online yang jauh lebih cepat menyampaikan informasi, bahkan setiap detik. Membutuhkan strategi khusus dan pendekatan ‘unik’ untuk mengelola bisnis media cetak.

Modal besar. Bisnis media cetak membutuhkan modal lebih besar dibanding media online. Jadi, jika modal pas-pasan, sebaiknya mempertimbangkan kembali untuk memutar haluan ke bentuk media online. Bahkan seorang Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, tidak pusing karena merugi Rp 1 miliar, karena memang DI sangatlah mahfum bahwa kerugian itu biasa. Ia menyiapkan dana triliunan sehingga kerugian miliaran hanya kerikil sandungan bagi bisnisnya.

Butuh waktu. Branding..branding. Branding jangan dinilai dari biaya dan hitungan untung rugi. Karena branding adalah investasi jangka panjang. Bahkan, menyediakan dana khusus untuk ‘dibuang’ dalam keperluan branding, lebih ideal. Branding bukan sekadar promosi atau iklan, tapi juga branding personal. Pemilik media harus dan mau tidak mau harus ‘memasukkan’ dirinya dalam berbagai komunitas. Simpelnya adalah bergaul dengan berbagai kalangan. Dari sanalah ia diuji dan ‘dinilai.’ Jika ia ‘membawakan diri’ dengan baik, maka ia berhasil merebut simpati komunitas. Jika sudah berhasil merebut simpati komunitas, ia sukses branding personal dan makin mudahlah ia ‘menjual’ bisnisnya.

Belum lagi sekarang, media cetak terimbas isu kampanye penyelamatan lingkungan hidup. Pemakaian kertas dianggap salah satu aktivitas yang menyumbang percepatan kerusakan lingkungan. Karena kertas dari serat kayu yang itu berarti membutuhkan penebangan pohon untuk membuat lembaran kertas. Itu sebabnya media online lebih dilirik karena lebih ‘ramah’ lingkungan.

Jangan berharap untung dalam jangka setahun. Bisnis ini bukan bisnis makanan. Butuh tak sekadar modal kuat tapi juga mental baja untuk bertahan dalam bisnis media. Semua saja. Bukan hanya bisnis media cetak.

* Posting ini bukan karena pemilik blog adalah orang yang sudah ahli di bisnis media, tetapi mencuplik dari pengalaman para pelaku bisnis media yang dibagikan lewat berbagai jenis sumber dan pergaulan.

August 11th, 2009

KDRT II

Posted by yudhita in Sosial

Entah apa yang dipikirkan para pria pelaku KDRT soal tanggung jawab. Memenuhi kebutuhan keluarga, istri dan anak-anak dengan sandang, pangan, dan papan dengan berkecukupan bahkan berkelimpahan, membuat legitimasi bahwa ia berhak melampiaskan kemarahannya dengan membabi buta.

Ada beragam kasus KDRT. Yang terbaru dan terheboh, seorang artis dilaporkan ke polisi oleh mantan istrinya. Mereka mempertengkarkan sesuatu dan terjadilah peristiwa kekerasan itu.

Sang artis membantah ia melakukan kekerasan karena menurutnya itu adalah pertengkaran biasa. Ia hanya mencengkeram tangan dan berbagai bantahan lainnya.

Sayangnya, sang ayah artis memberi komentar kurang bijaksana. “Ah kalau dalam pertengkaran suami istri ada sedikit ditampar itu biasa. Jangan jadi persoalan besar.”

Sedikit ditampar biasa? Oh, rupanya ini persoalannya. Sebuah perilaku yang tidak pantas diberikan kemakluman oleh lingkungannya, dalam hal ini lingkungan keluarga. Bahwa tak mengapa seorang pria melampiaskan kemarahannya dengan menendang, dan menghina.

Bahwa jika seorang suami sudah memenuhi segala kebutuhan istri dan mungkin si istri tidak berperilaku sebagaimana seorang istri dan ibu yang baik, kemudian boleh-boleh saja bagi suami untuk menghajar istri, memperlakukannya seperti maling tepergok mencuri.

Ini soal perspektif atau pemahaman apakah itu KDRT. Bagaimanapun brengseknya istri, tidak ada hak bagi suami untuk menyakitinya secara fisik dan memberikan kata-kata atau ucapan yang seperti tidak pernah mendapat pendidikan.

Dalam agama Islam, memberikan hukuman bagi istri yang bersalah juga ada aturannya. Tidak dengan kekerasan, tapi dengan memisahkan tidur. Tidak lantas memukulnya sehingga meninggalkan bekas dalam beberapa bagian tubuhnya, tetapi memberikan pukulan yang tidak boleh meninggalkan bekas pada fisiknya. Memberikan nasihat tapi bukan dengan cacian dan makian.

Bagaimana lingkungan terdekat pria tersebut, memberikan panduan perilakunya. Dalam masyarakat Indonesia, perbedaan gender masih saja dilakukan. Tak mengapa jika anak laki-laki nakal tapi anak perempuan tidak boleh nakal. Tak mengapa jika anak laki-laki berkelahi tetapi anak perempuan tidak. Sebaliknya pula, tidak boleh anak laki-laki menangis sementara anak perempuan tidak masalah. Tidak mengapa anak laki-laki melampiaskan kemarahannya denga agresif (memukul, mencakar, menampar), tapi tidak demikian dengan anak perempuan.

Ketika si anak laki-laki itu kemudian besar, ia terbiasa dengan kekerasan yang dimaklumi sebagai kejantanan pria. Lingkungan memberi andil bahwa pria kasar, pria keras, itu wajar karena begitulah pria. Jika pria lemah lembut, itu bukan pria.

Lengkaplah dengan pola didik bahwa perempuan itu harus patuh yang diartikan nrimo apa saja yang dilakukan suami. Digebuki, atau dicaci maki, istri mengalah saja. Istri tidak boleh emosi ketika sang suami mengumbar emosinya. Apalagi dan lebih-lebih jika sang suami sudah amat sangat cukup memenuhi tanggung jawab materi pada istri.

Dengan pola asuh, lingkungan yang demikian, sangat yakin bagi saya bahwa kasus KDRT akan terus terjadi.

Kasus KDRT berikutnya adalah yang dialami seorang teman saya. Setiap kali sang suami marah, ia selalu jadi sansak hidup. Digebuki, dihajar, dijambak, ditampar, hingga dicaci maki. Sumbernya, karena sang suami yang kini mantan, cemburu dengan sang istri yang kariernya di kantor lebih moncer. Apalagi penghasilan istri juga jauh lebih besar. Belum lagi si istri cantik dan ramah. Cemburu membabi buta menjadikan sang mantan suami murka karena egonya merasa dikalahkan.

Teman saya tidak menyangka, jika setelah menikah sang suami berubah menjadi sangat kasar sehingga sanggup memukulinya. Ketika pacaran, sang suami adalah pacar yang sangat perhatian, dan romantis. Pergi kemanapun diantar.

Setelah menikah dan setelah menghajar istri habis-habisan, mantan suaminya akan tersedu-sedu menangis memohon maaf. Ia kemudian berperilaku seperti suami terbaik di dunia. Memberikan perhatian luar biasa dan memanjakan teman saya. Berkali dan berulang kali itu terjadi.

Setelah memutuskan bercerai, teman saya bercerita pada ia sempat menanyakan kepada psikolog tentang perilaku mantan suami. Penyebabnya adanya kemungkinan rasa egonya sebagai pria terluka karena kesuksesan karier istri. Dipicu itu, muncullah kecemburuan yang membabi buta.

Latar belakang pola asuh keluarga sangat berperan pada pembentukan karakter. Ibu dari mantan suaminya adalah seorang perempuan yang patuh pada suami, dan hanya sebagai ibu rumah tangga. Ia terbiasa melihat sang ibu selalu diam dan mengalah ketika suaminya, yaitu ayahnya marah. Si ibu menerima begitu saja kemarahan sang suami.

Ketika iapun menikah, sudah tertanam di otaknya bahwa istri itu di rumah saja. Cukup tidak cukup istri mestinya nrimo saja. Sementara ternyata karakter teman saya berbeda. Ia adalah wanita aktif dan tidak bisa hanya sebagai ibu rumah tangga. Bekerja tetap penting karena ia merasa sayang dengan pendidikan sarjananya. Teman saya beralasan, toh meski ia bekerja ia tidak menelantarkan anak-anaknya. Selesai bekerja ia langsung pulang ke rumah dan tidak ngalor ngidul kemana.

Teman saya tidak bisa hanya mengandalkan gaji suami. Ia butuh menyenangkan dirinya juga dengan berpenampilan bagus. Itu membutuhkan dana. Lagipula ia beranggapan bahwa dengan ia bekerja, ia bisa membantu menopang ekonomi keluarga.

Saya tidak hendak membela teman saya. Yang menjadi persoalan adalah bukan sebuah hal wajar bagi pria, notabene suami, untuk memperlakukan istrinya semena-mena. Suami dan istri adalah partner bukan majikan dan buruhnya. Bos dan karyawan juga mitra dan mereka bekerja sinergi dan saling menghargai dengan posisi masing-masing.

Kembali ke persoalan hubungan suami istri, bahwa masalah bisa diselesaikan tanpa kekerasan. Jika kekerasan sudah bicara dan berada di depan, menurut saya rasa respek keduanya sudah hancur.

Tidak ada pembenaran apapun dengan perilaku kekerasan, apapun alasannya dan bentuknya.

August 11th, 2009

KDRT

Posted by yudhita in Sosial

Timbulnya KDRT turut disumbangkan dari lingkungan. Lingkungan terdekat yang membentuk karakter seseorang. Jika perilaku tidak benar diberikan pemakluman, itu menjadi perilaku yang wajar padahal sebenarnya sebaliknya.

Pola asuh di masyarakat kita, tanpa kita sadari sangat diskriminatif. Adanya pembedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki boleh nakal, boleh bandel, sedangkan anak perempuan harus patuh. Anak laki-laki boleh melampiaskan marahnya, boleh berkelahi, sedangkan anak perempuan sebaiknya diam dan tak layak berkelahi meski ia diperlakukan tidak adil. Pendeknya, anak laki-laki boleh berperilaku agresif, sedangkan anak perempuan harus lemah lembut.

Apapun alasannya, perilaku KDRT baik dilakukan suami atau istri, tak selayaknya dipelihara di rumah. Rumah adalah tempat berlindung dan mendapatkan ketenangan bagi semua penghuninya. Lantas apa jadinya rumah itu jika di dalamnya ada perilaku KDRT yang dimaklumi?

Perilaku KDRT juga tidak sebatas berwujud secara fisik, berupa pemukulan atau tindakan lain yang melukai secara fisik. Namun perilaku KDRT juga berwujud psikis berupa ucapan yang bernada melecehkan, mengintimidasi, dan melukai perasaan pasangan.

Dari beberapa pengalaman pribadi, suami, pelaku KDRT fisik, biasanya berpendidikan SMA ke bawah. Sedangkan suami, pelaku KDRT psikis, dilakukan oleh mereka yang berpendidikan sarjana. Bisa saja kedua-duanya, tapi kesimpulan saya lebih kepada pengalaman yang saya temui di lingkungan saya.

Tumbuhkan respek satu sama lain. Tidak menegur keras pasangan di depan umum, tidak meluapkan emosi kemarahan di depan umum, dan tidak mencela pasangan di depan umum, adalah beberapa perilaku yang menunjukkan respek pada pasangan.

Tulisan ini saya buat karena miris melihat kenyataan, bahwa perilaku KDRT masih banyak terjadi. Pelakunya tidak hanya yang berpendidikan menengah saja, tapi juga pria-pria berpendidikan sarjana yang mestinya memakai otak daripada otot dan mulut.

August 2nd, 2009

Tentang Ucapan dan Maaf

Posted by yudhita in Tak Berkategori

Sangat lucu jika semua persoalan diselesaikan dengan kata maaf. Apa yang saya tuliskan dalam blog, tak lain adalah ungkapan kebesaran cinta saya. Mungkin caranya nyelekit, tapi cinta kadang tak harus ditunjukkan lewat pujian, hadiah, cokelat, bunga, atau segala hal yang manis dan menyenangkan.

Jikalau kemudian, ada pihak-pihak yang merasa tersudutkan, saya pikir sangatlah sempit cara memandangnya. Tak ada seorangpun yang sempurna, namun berhati-hati dalam ucapan sebaiknya dilakukan.

Maaf. Tidak semua persoalan selesai dengan maaf. Kata seorang bijak, ada tiga hal yang tak pernah kembali, yaitu waktu, ucapan, dan kesempatan.

Waktu berjalan terus, usia semakin mendekati batas akhirnya. Ucapan sulit untuk ditarik kembali. Ketika kata-kata keluar dari bibir dan diterima telinga yang mendengar, merevisinya butuh proses yang tergantung kepada seperti apa ucapan tersebut.

Saya sempat sedikit menyesal akan ucapan yang terlontar kepada seorang teman. Meski niat saya baik, tapi kemudian saya sadari bahwa cara mengucapkannya mungkin tidak pas. Meski kemudian sang teman berterima kasih karena saya telah mengingatkannya dengan cara yang awalnya terasa menyakitkan, namun membuatnya tersadar bahwa ada beberapa hal yang perlu ia koreksi dalam tindakannya.

Saya mulai belajar berhati-hati dalam berucap. Saya berusaha sedemikian rupa untuk menata kalimat dan memikirkan kembali apakah ketika kalimat-kalimat tersebut saya ucapkan akan menyakiti atau tidak. Meski niat saya baik. Baik adalah perspektif subjektif saya, belum tentu menurut orang lain.

Kecerdasan itu tampak dari bagaimana seseorang berucap. Pesan seorang konsultan kepribadian kepada saya. Saya tersenyum, untuk kemudian termenung dan berjanji menanamkannya dalam hati, lalu belajar melakukannya di kemudian hari.

July 28th, 2009

Konyolnya Bisnis Media

Posted by yudhita in Pekerjaanku

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan resign dari sebuah perusahaan media kecil yang memproduksi tabloid berkonten lokal. Awalnya saya bergabung sebagai reporter freelance kemudian diminta menjadi editor.

Saya sebenarnya cukup optimistis dengan media baru ini. Konten lokal yang dikemas ringan untuk konsumsi keluarga. Memang konsep ini tidak orisinal tapi setidaknya di Surabaya belum ada tabloid seperti ini. Ada memang free magazine milik sebuah korporasi media yang terkenal dengan radionya yang nomor satu di Surabaya, tapi membaca free magazine tentu berbeda dengan media komersial.

Dimulailah kemudian kesibukan mempersiapkan konten terbaru dan mengumpulkan file-file yang kocar kacir. Perubahan konsep di sana-sini hingga perombakan tampilan sampul depan. Cukup pusing tapi sangat menantang dan menyenangkan. Kemudian disibukkan dengan urusan layout yang cukup membuat hati berdebar-debar tidak karuan karena halangan di sana-sini.

Edisi baru yang didaulat menjadi edisi perdana pun terbit setelah hampir sebulan terkatung-katung. Syukurlah. Responnya lumayan positif dari berbagai relasi dan kawan-kawan media.

Di tengah optimisme dan semangat untuk memperbaiki yang kencang, muncullah perdebatan dan ketidaksepahaman visi dan misi. Deadline profit yang tidak masuk akal dan cecaran yang konyol.

Saya ingin tahu, media mana yang bisa mendapatkan profit dalam waktu enam bulan? Bisnis media tidak sama dengan bisnis restoran, kafe. Tak sama pula dengan bisnis garmen. Restoran saja butuh waktu satu tahun untuk menjejakkan kakinya atau mencari pelanggan.

Bisnis media setidaknya butuh waktu minimal 1 tahun untuk branding. Branding dan branding. Tahap ini memang menghabiskan modal yang tidak sedikit. Bukan berarti bisnis media tidak bisa untung cepat, tapi itu butuh waktu dan kekuatan modal. Apalagi ini bisnis media cetak yang kita semua tahu bahwa harga kertas terus melambung tinggi. Mungkin agak berbeda dengan bisnis media online yang tidak perlu memikirkan biaya cetak segala.

Pucuk pimpinan masih juga tidak paham dan bahkan memaksakan kehendaknya. Katanya, perusahaan bukan dinas sosial alias dinas penyantun. Jadi, selama ini dirinya menganggap menyantuni karyawannya yang bekerja tanpa memikirkan gaji layak atau tidak? Luar biasa perendahan harga diri karyawan. Ini masih perusahaan kecil, lalu bagaimana jika besar nanti?

Mulailah ia menjelaskan panjang lebar kenapa ia memaksakan kehendaknya. Sayang, alasan yang sebenarnya sangat jauh dari idealisme sebuah media. Betapa konyolnya jika beranggapan ia bisa meraup untung hanya dalam hitungan enam bulan pertama dan enam bulan kedua. Konyol dan sangat konyol. Yang paling konyol tentu saja yang memberikan masukan atau bahkan memberikan penilain yang tidak fair. Membandingkan bisnis media dengan bisnis perbankan. Konyol dan sekali lagi konyol.

Mestinya ia perlu berkonsultasi atau setidaknya banyak bertanya, bagaimana mengelola sebuah bisnis media. Bagaimana perusahaan-perusahaan media yang kini besar, mengalami jatuh bangun membangun bisnisnya, dan itu tidak berlangsung dalam enam bulan bahkan satu tahun. Ia katakan ia punya banyak relasi dari media-media besar? Nah, kenapa tidak ditanyakan berapa lama media mereka akhirnya bisa bertahan atau setidaknya berdiri tegak meski belum bisa berjalan atau melangkahkan kaki?

Salah besar jika membandingkan mengelola media internal dan media komersial. Media internal, tantangannya tak sebesar media komersial. Dalam media internal, sumber dana dasar sudah ada dan sasaran pelanggannya sudah jelas. Media komersial butuh keahlian penanganan yang unik. Siapa pemiliknya? Isinya apa? Pemasarannya bagaimana?

Pengelola media komersial butuh ajang aktualisasi diri dan ‘pamer diri.’ Memasuki berbagai macam pergaulan sebagai etalase utama dan garda terdepan. Ia akan dilihat dan dinilai. Baru ketika performanya diterima, ia lebih mudah masuk dan mulai menembakkan peluru ke sasaran.

Ia bergeming. Tak hirau dengan saran dari tim yang sebenarnya bekerja dengan landasan cinta dan optimisme. Ia salah besar jika menganggap timnya adalah anak-anak kemarin sore, atau bahkan karena belum pernah mencicipi berdiam di luar negeri.

Itulah mengapa orang yang berniat berbisnis di bidang media, mengelola sebuah perusahaan media, harus memiliki cinta dan idealisme berlipat ganda. Media sebesar Kompas, dibangun dengan sebuah idealisme menyuarakan suara rakyat dan mewartakan fakta. Dibangun dengan kecintaan jurnalistik yang ganda. Bukan sekadar senang dan suka menulis.

Memangnya jualan media komersial sama dengan main bursa saham? Sama dengan jualan bakso, yang setidaknya sehari bisa laku 5 mangkuk meski rasanya tidak enak?

Jauh lebih baik jika pemilik media pernah merasakan pahit manisnya bekerja dari bawah. Ya, sebagai wartawan media komersial. Setelah itu baru naik bertahap ke jenjang yang lebih tinggi. Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, menapaki kariernya sebagai wartawan. Dari sana ia belajar dan terus belajar menyaring pengalaman dan membekali dirinya sebelum kemudian ia membangun sebuah korporasi media yang luar biasa.

Bahwa kemudian Dahlan Iskan mengaku mengalami kerugian triliunan untuk kemudian tetap bangkit dan menjalankan kembali perusahaan medianya. Itu tidak dibangunnya dalam waktu satu tahun. Seorang Dahlan Iskan tahu, butuh nyali superbesar dan modal yang bukan modal dengkul untuk membangun perusahaan media.

Seorang teman, fotografer senior, berkata, mengapa banyak pemilik perusahaan media gulung tikar? Pertama, karena ia tidak punya visi dan misi yang jelas dan idealisme. Kedua, hanya tertarik pada keuntungan kue iklan. Lupa bahwa keuntungan kue iklan bisa digenggaman setelah mengalami serangkaian proses panjang dan strategi.

Karena visi dan misi serta idealisme yang sudah melenceng, kemudian saya memilih meninggalkannya. Tidak ada gunanya bertahan karena jelas perbedaan visi dan misi akan pelan-pelan menggerogoti sebuah organisasi. Itu akan membuat orientasi yang tidak jelas dan tidak sama.

Apalagi kemudian, meluncurlah sebuah pengakuan bahwa terjadi klaim keberhasilan. Keberhasilan ini hanya karena Si Anu atau Si Inu. Wah, ini penyakit yang tampaknya kecil tapi ganas. Jika masih kecil, sudah terjadi saling mengklaim keberhasilan milik individu, sama saja proses penghancuran tim. Seperti dalam sebuah kesebalasan sepak bola, tidak ada sebuah kemenangan karena hanya kipernya yang hebat. Tidak ada sebuah keberhasilan karena hanya pencetak golnya yang hebat.

Mungkin saja dalam beberapa bagian tulisan ini saya salah. Saya hanya ingin tahu media mana yang berprofit hanya dalam waktu setahun? Maksud saya media cetak. Mungkin saja pengetahuan saya terbatas, tapi tulisan ini berlandaskan keyakinan bahwa kesuksesan itu ada tahapannya. Setiap investasi butuh proses sebelum kemudian menghasilkan. Ingin cepat menghasilkan, ya jualan rumah/tanah alias berbisnis properti saja. Asal pandai membidik pasar dan memilih properti berlokasi strategis, pasti untung cepat ada di tangan.

January 17th, 2009

Amplop

Posted by yudhita in Pekerjaanku

Kenapa wartawan amplop masih berkeliaran? Maklumi saja! Tak setiap orang tahan hidup menderita alias pas-pasan.

Nasib wartawan tak lebih baik dari buruh. Kenapa buruh saja berani berdemo minta kenaikan upah sampai uang lembur, sementara jarang atau bahkan tak pernah terlihat wartawan berdemo minta kenaikan honor atau gaji? Wartawan seperti pahlawan yang mengenaskan. Sering meliput demo buruh menuntut kenaikan upah, sementara tak pernah memperjuangkan nasibnya untuk hidup lebih layak.

Jika ada kesempatan dan karena keterpaksaan, diterimalah amplop. Demi menambah kepul asap dapur atau memenuhi tuntutan gaya hidup, atau bahkan melunasi tunggakan uang sekolah anak. Pinggirkan dulu idealisme dan moralisme. Tuntutan perut anak dan istri tak bisa ditunda.

Siapa bilang bekerja di media lebih bebas menyuarakan pendapat. Hei, demokrasi belum tentu ada di situ! Baru segelintir kritik demi kemajuan, merah sudah telinga terasa. Padahal kritik itu adalah untuk kebaikan dan kemajuan bersama.

Jauh lebih mudah hidup di luar lingkaran. Lebih jernih memandang persoalan. Lebih jernih mengoreksi dan mengevaluasi.

Selama menjadi wartawan masih hidup pas-pasan, selama itu pula amplop tetap bertebaran. Jika upah layak sudah di tangan tapi masih juga tangan menengadah, tinggal mempertanyakan moral yang bersangkutan.

January 17th, 2009

Iklan PD Nan Lucu

Posted by yudhita in Tak Berkategori

Iklan partai politik makin aneh-aneh dan menggelikan. Ada yang lucu dan lebih lucu daripada Srimulat.

Tak lain tak bukan iklan Partai Demokrat bertema BBM. Terima kasih Pak SBY karena menurunkan harga BBM tiga kali? Aduh..duh…ini yang bikin materi iklannya siapa sih? Memangnya masyarakat Indonesia ini dilanda amnesia masal?

Saya sih belum lupa kalau di pemerintahan SBY-lah yang mencetak rekor menaikkan harga BBM tiga kali dalam setahun. Lha sekarang malah keluar iklan berterima kasih segala.

Aduh…teman-teman di Partai Demokrat apa tidak kasih masukan sama yang bikin materi iklan? Katanya di PD banyak orang pintarnya tapi kok sejenak ‘berbodoh’ ria?

Malu ah…..

November 10th, 2008

Selamat Ulang Tahun Surya

Posted by yudhita in Tak Berkategori

20081110_mad02-surya.JPG  Hari ini, Senin 10 November 2008, Harian Surya dan PT Antar Surya Jaya berulang tahun yang ke-19. Tak terasa sudah 19 tahun perjalanan media di mana selama lima tahun saya berada di dalamnya.

Tentu saja bukan perjalanan panjang yang mudah. Apalagi di tengah persaingan media, terutama media cetak yang sedemikian ketatnya. Ada saat-saat kami berduka karena tiras yang meluncur turun drastis, tapi ada saat kami semua tersenyum karena tiras naik perlahan seiring dengan perubahan konsep yang tetap menonjolkan karakter khas Jawa Timuran. Lugas, dan akurat.

Selamat ulang tahun Surya! Semoga Surya terus berkibar dan tetap tegak meski embusan angin makin kencang. Surya..Korane Arek Jawa Timur

November 7th, 2008

Hitung Cepat Tak Akurat

Posted by yudhita in Bangsa & Negara

LSI bilang, Ka-Ji menang dengan suara 50 persen sekian. Sementara Polda Jatim bertahan dengan kemenangan Kar-Sa dengan perolehan tipis, juga 50 persen sekian.

Serba simpang siur gara-gara ada penghitungan cepat yang dilakukan beberapa lembaga. Semua ingin mendapat gelar tervalid dan tercepat melaporkan hasil pilgub Jatim. Sementara orang awam yang pengetahuannya cuma setengah-setengah atau malah tidak paham sama sekali apa itu penghitungan cepat dan apa itu lembaga survei, dibuat bingung dan resah.

Serba belum jelas tapi sudah cukur gundul. Hasil belum jelas, sudah tepuk tangan. Masih mending yang sujud syukur berjamaah meski hasil belum jelas. Setidaknya bersyukur bahwa pilgub 5 November 2008 lalu berjalan lancar, aman, dan terkendali.

Ingat, bahwa semua hasil hitung cepat dari lembaga-lembaga tak resmi itu tidak menyatakan salah satu pasangan calon menang, tetapi pakai istilah unggul. Unggul (sementara) bukan berarti menang karena mereka hanya mengambil sampel pada beberapa TPS saja.

Sebenarnya ini bahaya. Hasil hitung cepat dari lembaga bukan KPU (KPUD Jatim) sangat potensial memicu ricuh. Saya khawatir jika ini diblow-up media tanpa media itu memberi informasi bahwa hasil hitung cepat bukan informasi resmi, nanti pihak yang benar-benar kalah ketika diumumkan secara resmi oleh KPUD Jatim akan murka dan melakukan aksi-aksi tak terpuji (kasarnya anarkis).

Harus ada yang segera mengingatkan bahwa hasil hitung cepat oleh LSI kek, deks pilkada kek,  Polda Jatim kek,  apa kek, jangan dijadikan patokan. Lebih khawatir lagi jika KPUD Jatim nantinya dituding ikut bermain sehingga memenangkan salah satu pasangan calon padahal dari hasil hitung cepat sementara disebut tidak unggul (bukan kalah lho!)

Kalau ada yang sudah yakin dengan kemenangan jagonya, tolong yang mengerti agar diingatkan. Hasil hitung cepat oleh lembaga bukan KPUD Jatim, jangan dijadikan patokan. Berdoa saja dan menunggu dengan sabar KPUD Jatim akan mengumumkan hasil pilgub Jatim 2008 yang resmi, nanti pada Jumat 14 November 2008.

November 3rd, 2008

Jangan Baca Cuma Satu

Posted by yudhita in Koranku

Kenapa Harian Surya harganya cuma Rp 1.000? Apa bisa mendapat untung hanya dengan harga segitu?

Pertanyaan itu diajukan oleh Cak Pras, seorang finalis Cak & Ning Surabaya 2008, ketika berkunjung ke kantor redaksi Harian Surya, Senin (3/11).

Bagus juga pertanyaannya. Ternyata ia sangat tertarik dengan sisi marketing koran harian di tempat saya bekerja.

Stella Sudibjo, Manajer Iklan Harian Surya, tak menampik jika Surya tidak bakalan untung hanya dengan mengandalkan harga koran yang cuma Rp 1.000. Tentu saja berbisnis media, apalagi koran harian tidak hanya bisa mengandalkan harga koran per satuan. Ada departeman iklan dan sirkulasi yang menyokongnya.

Adalah hal berat bagi koran regional di tempat saya bekerja bertahan hingga 19 tahun, nanti di tanggal 10 November 2008. Harian Surya terbit pertama kali pada 10 November 1989, yang awalnya adalah koran mingguan. Kemudian berganti menjadi harian pagi seiring dengan permintaan pasar dan tren saat itu.

Buat bertahan, tentu tidak mudah. Apalagi sejak beberapa waktu lalu, koran Surya difokuskan terbit di wilayah Jawa Timur saja, meski dengan begitu di beberapa daerah pendistribusiannya belum maksimal.

Apalagi di Surabaya, mindset pembacanya sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Di Jakarta beragam koran terbit dan pembacanya sangat beragam. Bahkan, mereka bisa berganti-ganti membeli koran berbeda setiap hari, tergantung isi beritanya.

Sementara di Surabaya, segmen pembaca koran sangat minimal. Kebanyakan pembaca yang sudah terbiasa baca koran A akan seterusnya baca A dan enggan baca lainnya. Mau beritanya benar atau sengaja dipelintir-pelintir, tetap saja baca koran A.

Wah, saya jadi ingat pengalaman miris yang saya alami soal kebiasaan membaca. Membaca banyak koran adalah lebih bijak dibandingkan hanya membaca satu koran, tapi masih lebih baik dibanding yang tidak membaca koran sama sekali. He..he…

Sekelompok mahasiswa dari PTN ternama (tidak perlu disebut karena agak memalukan), datang ke gedung dewan. Mereka membawa poster dan berteriak-teriak selaiknya orang berdemonstrasi. Saya dan beberapa teman wartawan lain yang sedang bersantai di teras gedung dewan penasaran, isu apa yang mereka angkat sebagai tema demonstrasi.

Oh, ternyata soal permintaan kunker (kunjungan kerja) sebuah komisi di dewan ke Jakarta tapi minta dibiayai pemkot. Kemudian iseng saya tanya pada salah satu mahasiswa yang tampaknya sebagai koordinator kelompok mahasiswa itu.

“Memang tahu dari mana? Baca koran apa saja?” tanya saya.

Sejurus mulut saya ternganga ketika mahasiswa itu menjawab jika dia dan teman-temannya berinisiatif berdemonstrasi setelah membaca berita soal kunker itu di koran XX. Tidak ada koran alternatif lainnya.

Alamak. Padahal saya dan beberapa teman wartawan sedang membahas koran XX itu yang memuat berita soal kunker. Tahu tidak, wartawan koran XX yang memberitakan soal kunker, sama sekali tidak ada saat kejadian permintaan biaya kunker dewan pada eksekutif. Si wartawan XX itu malah diberi tahu seorang teman wartawan lain dan itupun memberi tahunya sambil lalu saja. Eh, ternyata besoknya keluarlah tulisan si wartawan itu hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut.

Waduh, celaka jika mahasiswa apalagi yang mengaku dirinya aktivis, hanya membaca satu koran saja. Sudah begitu, mudah sekali mengambil kesimpulan. Yah, kalau mahasiswa saja sudah enggan membaca banyak koran, apalagi tidak membaca sama sekali, apalagi yang bukan mahasiswa? Tidak melulu hanya membaca dari koran sebenarnya, karena akses informasi itu bisa darimana saja. Namun, alangkah lebih bijak kalau makin banyak sumber informasi yang kita peroleh sehingga kita bisa membandingkan satu dengan lainnya, termasuk membandingkan informasi mana yang benar-benar akurat dan tidak.

Next Page »